1. Pemeliharaan
1.1
Pengertian dan peran pemeliharaan
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau
menjaga fasilitas/ peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penggantian
yang diperlukan supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan
sesuai dengan apa yang direncanakan.
Tujuan
dari pemeliharaan adalah menjaga agar system yang ada dapat berjalan sebagaimana
mestinya dan juga untuk dapat mengendalikan biaya baik untuk pencegahan maupun perbaikan
jika terjadi kerusakan.
1.2
Jenis-jenis pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan dibedakan atas dua macam, yaitu:
·
Pemeliharaan pencegahan (Preventive maintenance)
Preventive maintenance adalah
kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya
kerusakan-kerusakan yang tidak terduga dan menemukan kondisi atau keadaan yang
dapat menyebabkan fasilitas produksi mengalami kerusakan pada waktu digunakan
dalam proses produksi.
Sebuah tingkat kegagalan awal yang tinggi, dikenal sebagai tingkat kematian dini (infant mortality), yang mungkin terjadi pada banyak produk. Yang dimaksud tingkat kematian dini sendiri yaitu tingkat kegagalan di awal kehidupan sebuah produk atau proses. Hasil yang cacat / gagal akan menyebabkan tambahan biaya karena harus diproses kembali dan yang lebih besar resikonya adalah kurangnya kepercayaan konsumen kepada perusahaan akibat produk gagal. Tambahan yang timbul menyebabkan biaya produksi membengkak (tidak minimal). Jika biaya produksi membengkak, maka harga barang menjadi tinggi.
Pemeliharaan
yang periodic dan terencana sangat diperlukan pada fasilitas-fasilitas produksi, jika tidak akan mengakibatkan kerusakan“ Unit Kritis” dikarenakan :
1.
Kerusakan
fasilitas atau peralatan tersebut akan membahayakan kesehatan dan keselamatan
para pekerja.
2.
Kerusakan
fasilitas ini akan mempengaruhi kualitas dari produk yang dihasilkan.
3.
Kerusakan
fasilitas tersebut akan menyebabkan kemacetan seluruh proses produksi.
4.
Modal yang
ditanamkan dalam fasilitas tersebut atau harga dari fasilitas ini adalah cukup
besar atau mahal.
Preventive
maintenance ini dapat mengatasi kerusakan yang tiba-tiba terjadi. Hal ini dikarenakan preventive
maintenance ini dapat mendeteksi dan menangkap sinyal kapan suatu system akan mengalami kerusakan serta menentukan kapan suatu system memerlukan service ( perbaikan).
Preventive
maintenance berdasarkan prakteknya dibedakan atas:
1.
Routine
Maintenance :
kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin, misalnya
setiap hari. Sebagai contoh dari kegiatan ini adalah pembersihan fasilitas
maupun peralatan, pelumasan, serta pemeriksaan bahan bakarnya dan mungkin
termasuk pemanasan (warming-up) mesin-mesin selama beberapa menit
sebelum dipakai beroperasi sepanjang hari
2.
Periodic
Maintenance : kegiatan
pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara periodik atau dalam jangka
waktu tertentu, misalnya setiap satu minggu sekali, lalu meningkat setiap bulan
sekali, dan akhirnya setiap setahun sekali. Sebagai contoh untuk kegiatan periodic
maintenance adalah pembongkaran karburator atau pembongkaran alat-alat
dibagian sistem aliran bensin, penyetelan katup-katup pemasukan dan pembuangan
silinder mesin, dan pembongkaran mesin.
· Breakdown maintenance
Jenis
perawatan ini hanya bisa di lakukan apabila mesin mati total akibat kerusakan
dan tidak mungkin dapat di operasikan. Untuk dapat memperbaikinya maka prinsip
kerja dari peralatan tersebut harus dapat di kuasai agar diagnosa terhadap
kerusakan dapat di lakukan dengan cepat dan tepat.
Sifat
Breakdown dapat di bedakan menjadi:
§ Sporadic, yaitu
breakdown yang terjadi mendadak, dramatis atau kerusakan-kerusakan alat yang
yang tidak terduga, breakdown maintenance jenis ini bisa terjadi dan mudah di
tanggulangi.
§ Kronis, yaitu minor
breakdown tetapi frekuensi kejadiannya tinggi. Breakdown jenis ini sering di
abaikan atau di lupakan setelah beberapa kali usaha pengulangan yang gagal.
Breakdown akan menyebabkan beberapa kerugian baik yang
langsung maupun yang tidak langsung:
- Kerugian langsung mencangkut biaya perbaikan, biaya pencegahan, kerugian cacat produk, dan lain sebagainya.
- Kerugian tidak langsung mencakup penurunan produksi, merosotnya moral karyawan, menurunkan atau merusak citra perusahaan.
1.3
Efisiensi dalam pemeliharaan
Ada dua persoalan dalam kegiatan maintenance:
1. Persoalan
Teknis
Persoalan teknis adalah persoalan yang menyangkut
usaha-usaha untuk menghilangkan kemungkinan-kemungkinan timbulnya kemacetan
yang disebabkan karena kondisi fasilitas atau peralatan produksi yang tidak
baik.
Tujuan yang akan dicapai dalam mengatasi persoalan
teknis adalah untuk dapat menjaga atau menjamin agar produksi pabrik
dapat berjalan lancar.
Dalam persoalan teknis ini perlu diperhatikan adalah:
a.
Tindakan-tindakan
apa yang harus dilakukan untuk memelihara/merawat peralatan yang ada, dan untuk
memperbaiki / mereparasi mesin-mesin atau peralatan yang rusak.
b.
Alat-alat atau
komponen-komponen apa yang dibutuhkan dan harus disediakan agar
tindakan-tindakan pada bagian (a) dapat dilakukan.
Jadi dalam persoalan teknis ini semua mesin atau
peralatan yang rusak harus diperbaiki.
2. Persoalan
Ekonomis
Persoalan ekonomis adalah persoalan yang menyangkut
bagaimana usaha yang harus dilakukan supaya kegiatan maintenance yang
dibutuhkan secara teknis dapat efisien.
Jadi dalam persoalan ekonomis yang ditekankan adalah
efisiensi, dengan memperhatikan besarnya biaya yang terjadi, dan tentunya
alternatif tindakan yang dipilih untuk dilaksanakan adalah yang menguntungkan
perusahaan. Adapapun biaya-biaya yang terdapat dalam kegiatan maintenance
adalah biaya-biaya pengecekan, dan penyetelan, biaya service, biaya penyesuaian
(adjustment) dan perbaikan/reperasi.
1.4
Pemilihan kebijakan dalam pemeliharaan
Pemilihan preventive maintenance secara teknis perlu
dilakukan untuk menjamin kelancaran bekerjanya suatu mesin atau peralatan
tetapi secara ekomomis belum tentu yang terbaik.
Pemilihan kebijakan dalam pemeliharaan perlu
memperhatikan:
a.
Jumlah biaya
yang terjadi
b.
Penentuan apakah
mesin atau peralatan merupakan “strategic point atau critical unit”. Kalau iya,
maka sebaiknya diadakan preventive maintenance.
Contoh Soal
:
Perusahaan
Acung yang bergerak dalam bidang elektronika mempunyai 100 mesin pengetesan
laser. Bila diketahui biaya pelaksanaan pemeliharaan preventif untuk satu
mesin(C1) = Rp. 20.000,- Biaya suatu kerusakan (C2) Rp.100.000,- Distribusi probabilitas
(fungsi waktu sejakreparasi sebelumnya) adalah :
Kebijakan
perbaikan :
Biaya
bulanan total (TCr) adalah pembagian biayareparasi semua mesin (N) dengan
jumlah bulan yangdiperkirakan antara kerusakan-kerusakan.
Kebijakan
pemeliharaan preventif : jumlah bulan tertentu antar operasi-operasi
pemeliharaan.
Persamaan
untuk penghitungan jumlah kerusakan yangdiperkirakan Bn, dimana n adalah
kebijakan untuk jumlahperiode yang akan berlalu antar penyetelan-penyetelan preventif,
yaitu:
Dimana:
N : jumlah mesin dalam
kelompok.
Pn : probabilitas mesin
rusak dalam periode n
2. Penanganan Bahan (Marerial Handling)
2.1
Arti dan peran penanganan bahan
Penangan bahan (material handling) adalah kegiatan
mengangkat, mengangkut dan meletakkan bahan-bahan/barang-barang dalam
proses di dalam pabrik, kegiatan mana dimulai dari sejak bahan-bahan masuk atau
diterima di pabrik sampai pada barang jadi/produk akan dikeluarkan dari pabrik.
Material handling memiliki peran penting dalam
suatu pabrik. Pada perusahaan yang maju, pekerjaan material handling merupakan
sebagian besar dari kegiatan perusahaan pabrik dan memakan biaya lebih dari
lima puluh persen (50%) dari seluruh biaya produksi.
2.2
Biaya penanganan bahan
Pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan dalam suatu
perusahaan pabrik/industry terdiri atas:
1.
Menyediakan atau
menempatkan bahan-bahan di tempat kerja yang disebut “make ready”.
2.
Melakukan
kegiatan-kegiatan yang nyata dalam pengolahan atau pembuatan barang-barang yang
disebut “do”
3.
Memindahkan
barang-barang dan bahan-bahan dari tempat kerja yang disebut “put away”
Biaya penanganan bahan terdiri atas upah untuk orang
yang memindahkan bahan (material handler), biaya investasi dari berbagai alat
pemindahan bahan yang digunakan, dan biaya-biaya yang tidak dapat dipisahkan
dan termasuk dalam biaya produksi untuk mengerjakan produk hasilnya. Dari
biaya-biaya material handling ini ada sebagian yang termasuk dalam biaya
langsung (direct cost) dan ada sebagian lagi yang merupakan biaya tak langsung
(indirect cost).
2.3
Efisiensi dalam penanganan bahan
Sebagian dari biaya material handling yang dikeluarkan
untuk upah tenaga kerja dan biaya-biaya lainnya adalah kurang produktif dan
tidak efisien, karena merupakan pemborosan (inefisiensi). Sehingga perlu
dilakukan usaha-usaha agar biaya material handling dapat diperkecil.
v Sebab pemborosan dalam biaya material handling:
a.
Adanya kelambatan
aliran atau jalannya bahan-bahan yang sedang atau akan dikerjakan dalam proses
produksi.
b.
Sering
dibutuhkannya waktu yang lama untuk memindahkan bahan-bahan atau barang-barang
di tempat-tempat pengiriman, penerimaan dan pemeriksaan atau pengecekan, yang
disebabkan karena tempat tersebut tidak diatur dengan baik.
c.
Adanya
pemborosan dalam meng-handle bahan-bahan di bagian pemeliharaan (maintenance
department), yang disebabkan kurangnya pengawasan langsung (direct supervision)
dalam menyusun barang-barang dan memindahkan bahan-bahan atau barang-barang.
v Biaya material handling dapat dikurangi atau
diperkecil dengan memperhatiakan prinsip-prinsip material handling:
a.
Material
handling harus dikurangi atau dihindari apabila mungkin dari semua pekerjaan
dalam pabrik.
b.
Pekerjaan
material handling yang tak dapat dihindarkan atau dikurangi harus
dimekanisasikan, seperti dengan menggunakan ban berjalan (conveyor) atau
forktruck/forklift.
c.
Alat-alat
handling harus dipilih berdasarkan pertimbangan ekonomi atau efisiensi dan
dapat berguna bagi kepentingan keseluruhan pabrik.
d.
Alat-alat
handling yang ada harus digunakan secara lebih efisien dalam pabrik.
e.
Sebelum
memutuskan penggunaan suatu jenis peralatan handling yang mekanis, perlu
dibuatkan suatu analisis yang lengkap untuk dapat ditentukan jenis peralatan
apa yang paling sesuai dan paling ekonomis untuk pekerjaan tersebut.
f.
Rencana untuk
memperkenalkan peralatan handling atau membuat perubahan atas peralatan-peralatan
yang ada haruslah dibicarakan, dan diterima oleh semua pihak yang
berkepentingan beserta usul-usul sebelum penerapan dilakukan.
v Aspek-aspek produksi yang menyangkut material
handling:
1.
Product design,
dimana produk yang direncanakan haruslah dibuat sedemikian rupa sehingga mudah
diangkut atau dipindahkan.
2.
Plant lay out,
dimana bagian-bagian dan peralatan haruslah diatur agar supaya pemindahan
bahan-bahan/barang-barang dalam proses dapat berjalan dengan lancar, sehingga
dapat mengurangi waktu pengerjaan dan waktu material handling.
3.
Production
planning, di mana urutan-urutan proses produksi haruslah diatur sedmikian rupa
sehingga pemindahan bahan-bahannya mudah dilaksanakan.
4.
Pengepakan
(packaging) haruslah memperhatikan agar handling-nya mudah, dimana bungkusan
atau pakannya mudah diangkut atau dipindahkan.
2.4
Pemilihan peralatan penanganan bahan
Peralatan material handling dalam suatu perusahaan
pabrik dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu:
1.
Fixed Path
Equipment, yaitu peralatan material handling yang sudah tetap (fixed) digunakan
suatu proses produksi.
Sifat-sifat dari fixed path equipment ialah:
a.
Biasanya tergantung
atau ditentukan oleh proses produksi.
b.
Sifatnya sudah
tetap (fixed) tidak fleksibel, karena hanya digunakan untuk mengangkut
barang-barang atau bahan-bahan secara terus-menerus/kontinu dan tidak dapat
digunakan untuk maksud yang lain.
c.
Mesin-mesin atau
peralatan ini biasanya menggunkan kekuatan tenaga listrik.
Contoh fixed path equipment adalah:
1)
Ban berjalan
(conveyor
2)
Derek (cranes)
3)
Lift (elevator)
4)
Keteta api
2.
Varied Path
Equipment, yaitu peralatan material handling yang sifatnya fleksibel dapat
dipergunakan untuk bermacam-macam tujuan dan tidak khusus untuk mengangkut atau
memindahkan bahan-bahan/barang-barang tertentu.
Sifat-sifat dari varied path equipment ialah:
a.
Biasanya tidak
tergantung dari proses produksi
b.
Dapat
dipergunakan bermacam-macam operasi
c.
Mesin-mesin atau
peralatan semacam ini biasanya digunakan dengan kekuatan tenaga manusia atau
tenaga mesin (motor).
Contoh dari varied path equipment adalah:
1)
Bermacam-macam
truk
2)
Kereta dorong
Untuk menentukan tipe peralatan penanganan bahan yang
akan digunakan perlu memperhatikan beberapa faktor penting. Faktor-faktor
pertimbangan tersebut adalah sebagai
berikut :
1.
Jalur pengangkutan yang akan diikuti oleh bahan atau orang yang akan meninggalkan lokasi
tertentu. Jika jalur yang dilewati bersifat tetap perusahaan akan
mempertimbangkan untuk menggunakan conveyor, namun jika bersifat variabel maka
perusahaan akan mempertimbangkan untuk menggunakan truk dan derek.
2.
Sifat objek yang diangkut. Bila mengangkut orang-orang, alternatif peralatan yang
dapat dipilih seperti elevator, eskalator, dan bus. Bila mengangkut
bahan-bahan, perlu mempertimbangkan bentuk, ukuran, berat dan daya tahan.
Contohnya, bahan cair sebaiknya diangkut melalui pipa-pipa.
3.
Karakteritik-karakteristik bangunan. Kapasitas beban lantai, ketinggian atap, kekuatan
tiang penyangga, penempatan lorong-lorong dan ukuran pintu akan menjadi
pertimbangan dalam memilih peralatan yang akan digunakan.
4.
Keadaan ruangan yang tersedia. Bila luas lantai terbatas, truk-truk kecil, conveyor
dan derek akan lebih sesuai.
5.
Kapasitas peralatan penanganan yang diperlukan. Faktor ini akan menentukan jumlah peralatan tipe
tertentu dibutuhkan, dimana ini juga tergantung pada jumlah bahan yang diangkut
per periode.
Sistem Penanganan Bahan Otomatik
1.
Sistem “guide rail” merupakan system mekanikal, dan mempergunakan rel-rel yang menempel padas isi gang-gang untuk mengendalikan truk tetap pada jalur melalui pemasangan roda-roda yang dicocokkan dengan rel-rel tersebut.
2.
Sistem “guide wire” memungkinkan penanganan bahan menjadi lebih otomatik sepenuhnya. Sistem ini menggunakan peralatan elektronik, yang terdiri atas jaringan kabel-kabel yang ditanam dalam gang-gang fasilitas. Sistem “guide wire” semakin banyak digunakan karena manfaat ekonomisnya yang tinggi, system ini juga menghemat ruangan, memerlukan tenaga kerja lebih sedikit, mengurangi kesalahan-kesalahan dan bahan atau komponen hilang, mengurangi bahaya dan lebih aman.






