Selasa, 04 Oktober 2016



PEMELIHARAAN FASILITAS DAN PENANGANAN BAHAN

1.    Pemeliharaan
1.1              Pengertian dan peran pemeliharaan
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas/ peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penggantian yang diperlukan supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.
Tujuan dari pemeliharaan adalah menjaga agar system yang ada dapat berjalan sebagaimana mestinya dan juga untuk dapat mengendalikan biaya baik untuk pencegahan maupun perbaikan jika terjadi kerusakan.

1.2              Jenis-jenis pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan dibedakan atas dua macam, yaitu:
·      Pemeliharaan pencegahan (Preventive maintenance)
Preventive maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan yang tidak terduga dan menemukan kondisi atau keadaan yang dapat menyebabkan fasilitas produksi mengalami kerusakan pada waktu digunakan dalam proses produksi.
Sebuah tingkat kegagalan awal yang tinggi, dikenal sebagai tingkat kematian dini (infant mortality), yang mungkin terjadi pada banyak produk. Yang dimaksud tingkat kematian dini sendiri yaitu tingkat kegagalan di awal kehidupan sebuah produk atau proses. Hasil yang cacat / gagal akan menyebabkan tambahan biaya karena harus diproses kembali dan yang lebih besar resikonya adalah kurangnya kepercayaan konsumen kepada perusahaan akibat produk gagal. Tambahan yang timbul menyebabkan biaya produksi membengkak (tidak minimal). Jika biaya produksi membengkak, maka harga barang menjadi tinggi.
Pemeliharaan yang periodic dan terencana sangat diperlukan pada fasilitas-fasilitas produksi, jika tidak akan mengakibatkan kerusakan“ Unit Kritis” dikarenakan :
1.    Kerusakan fasilitas atau peralatan tersebut akan membahayakan kesehatan dan keselamatan para pekerja.
2.    Kerusakan fasilitas ini akan mempengaruhi kualitas dari produk yang dihasilkan.
3.    Kerusakan fasilitas tersebut akan menyebabkan kemacetan seluruh proses produksi.
4.    Modal yang ditanamkan dalam fasilitas tersebut atau harga dari fasilitas ini adalah cukup besar atau mahal.
Preventive maintenance ini dapat mengatasi kerusakan yang tiba-tiba terjadi. Hal ini dikarenakan preventive maintenance ini dapat mendeteksi dan menangkap sinyal kapan suatu system akan mengalami kerusakan serta menentukan kapan suatu system memerlukan service ( perbaikan).
Preventive maintenance berdasarkan prakteknya dibedakan atas:
1.    Routine Maintenance : kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin, misalnya setiap hari. Sebagai contoh dari kegiatan ini adalah pembersihan fasilitas maupun peralatan, pelumasan, serta pemeriksaan bahan bakarnya dan mungkin termasuk pemanasan (warming-up) mesin-mesin selama beberapa menit sebelum dipakai beroperasi sepanjang hari
2.    Periodic Maintenance : kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara periodik atau dalam jangka waktu tertentu, misalnya setiap satu minggu sekali, lalu meningkat setiap bulan sekali, dan akhirnya setiap setahun sekali. Sebagai contoh untuk kegiatan periodic maintenance adalah pembongkaran karburator atau pembongkaran alat-alat dibagian sistem aliran bensin, penyetelan katup-katup pemasukan dan pembuangan silinder mesin, dan pembongkaran mesin.

·      Breakdown maintenance
Jenis perawatan ini hanya bisa di lakukan apabila mesin mati total akibat kerusakan dan tidak mungkin dapat di operasikan. Untuk dapat memperbaikinya maka prinsip kerja dari peralatan tersebut harus dapat di kuasai agar diagnosa terhadap kerusakan dapat di lakukan dengan cepat dan tepat.
Sifat Breakdown dapat di bedakan menjadi:
§  Sporadic, yaitu breakdown yang terjadi mendadak, dramatis atau kerusakan-kerusakan alat yang yang tidak terduga, breakdown maintenance jenis ini bisa terjadi dan mudah di tanggulangi.
§  Kronis, yaitu minor breakdown tetapi frekuensi kejadiannya tinggi. Breakdown jenis ini sering di abaikan atau di lupakan setelah beberapa kali usaha pengulangan yang gagal.
Breakdown akan menyebabkan beberapa kerugian baik yang langsung maupun yang tidak langsung:
  • Kerugian langsung mencangkut biaya perbaikan, biaya pencegahan, kerugian cacat produk, dan lain sebagainya.
  • Kerugian tidak langsung mencakup penurunan produksi, merosotnya moral karyawan, menurunkan atau merusak citra perusahaan.

1.3              Efisiensi dalam pemeliharaan
Ada dua persoalan dalam kegiatan maintenance:
1.    Persoalan Teknis
Persoalan teknis adalah persoalan yang menyangkut usaha-usaha untuk menghilangkan kemungkinan-kemungkinan timbulnya kemacetan yang disebabkan karena kondisi fasilitas atau peralatan produksi yang tidak baik.
Tujuan yang akan dicapai dalam mengatasi persoalan teknis  adalah untuk dapat menjaga atau menjamin agar produksi pabrik dapat berjalan lancar.

Dalam persoalan teknis ini perlu diperhatikan adalah:
a.    Tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk memelihara/merawat peralatan yang ada, dan untuk memperbaiki / mereparasi mesin-mesin atau peralatan yang rusak.
b.    Alat-alat atau komponen-komponen apa yang dibutuhkan dan harus disediakan agar tindakan-tindakan pada bagian (a) dapat dilakukan.
Jadi dalam persoalan teknis ini semua mesin atau peralatan yang rusak harus diperbaiki.

2.    Persoalan Ekonomis
Persoalan ekonomis adalah persoalan yang menyangkut bagaimana usaha yang harus dilakukan supaya kegiatan maintenance yang dibutuhkan secara teknis dapat efisien.
Jadi dalam persoalan ekonomis yang ditekankan adalah efisiensi, dengan memperhatikan besarnya biaya yang terjadi, dan tentunya alternatif tindakan yang dipilih untuk dilaksanakan adalah yang menguntungkan perusahaan. Adapapun biaya-biaya yang terdapat dalam kegiatan maintenance adalah biaya-biaya pengecekan, dan penyetelan, biaya service, biaya penyesuaian (adjustment) dan perbaikan/reperasi.

1.4              Pemilihan kebijakan dalam pemeliharaan
Pemilihan preventive maintenance secara teknis perlu dilakukan untuk menjamin kelancaran bekerjanya suatu mesin atau peralatan tetapi secara ekomomis belum tentu yang terbaik.
Pemilihan kebijakan dalam pemeliharaan perlu memperhatikan:
a.    Jumlah biaya yang terjadi
b.    Penentuan apakah mesin atau peralatan merupakan “strategic point atau critical unit”. Kalau iya, maka sebaiknya diadakan preventive maintenance.

Contoh Soal :
Perusahaan Acung yang bergerak dalam bidang elektronika mempunyai 100 mesin pengetesan laser. Bila diketahui biaya pelaksanaan pemeliharaan preventif untuk satu mesin(C1) = Rp. 20.000,- Biaya suatu kerusakan (C2) Rp.100.000,- Distribusi probabilitas (fungsi waktu sejakreparasi sebelumnya) adalah :






Jawab :
Kebijakan perbaikan :
Biaya bulanan total (TCr) adalah pembagian biayareparasi semua mesin (N) dengan jumlah bulan yangdiperkirakan antara kerusakan-kerusakan.
Kebijakan pemeliharaan preventif : jumlah bulan tertentu antar operasi-operasi pemeliharaan.

Persamaan untuk penghitungan jumlah kerusakan yangdiperkirakan Bn, dimana n adalah kebijakan untuk jumlahperiode yang akan berlalu antar penyetelan-penyetelan preventif, yaitu:
Dimana:
N : jumlah mesin dalam kelompok.
Pn : probabilitas mesin rusak dalam periode n

Jumlah kerusakan yang diperkirakan, bila pemeliharaan preventif dilakukan setiap satu bulan:
















2.    Penanganan Bahan (Marerial Handling)
2.1              Arti dan peran penanganan bahan
Penangan bahan (material handling) adalah kegiatan mengangkat, mengangkut dan meletakkan bahan-bahan/barang-barang  dalam proses di dalam pabrik, kegiatan mana dimulai dari sejak bahan-bahan masuk atau diterima di pabrik sampai pada barang jadi/produk akan dikeluarkan dari pabrik.
Material handling memiliki peran penting  dalam suatu pabrik. Pada perusahaan yang maju, pekerjaan material handling merupakan sebagian besar dari kegiatan perusahaan pabrik dan memakan biaya lebih dari lima puluh persen  (50%) dari seluruh biaya produksi.

2.2              Biaya penanganan bahan
Pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan dalam suatu perusahaan pabrik/industry terdiri atas:
1.    Menyediakan atau menempatkan bahan-bahan di tempat kerja yang disebut “make ready”.
2.    Melakukan kegiatan-kegiatan yang nyata dalam pengolahan atau pembuatan barang-barang yang disebut “do”
3.    Memindahkan barang-barang dan bahan-bahan dari tempat kerja yang disebut “put away”

Biaya penanganan bahan terdiri atas upah untuk orang yang memindahkan bahan (material handler), biaya investasi dari berbagai alat pemindahan bahan yang digunakan, dan biaya-biaya yang tidak dapat dipisahkan dan termasuk dalam biaya produksi untuk mengerjakan produk hasilnya. Dari biaya-biaya material handling ini ada sebagian yang termasuk dalam biaya langsung (direct cost) dan ada sebagian lagi yang merupakan biaya tak langsung (indirect cost).

2.3              Efisiensi dalam penanganan bahan
Sebagian dari biaya material handling yang dikeluarkan untuk upah tenaga kerja dan biaya-biaya lainnya adalah kurang produktif dan tidak efisien, karena merupakan pemborosan (inefisiensi). Sehingga perlu dilakukan usaha-usaha agar biaya material handling dapat diperkecil.

v  Sebab pemborosan dalam biaya material handling:
a.    Adanya kelambatan aliran atau jalannya bahan-bahan yang sedang atau akan dikerjakan dalam proses produksi.
b.    Sering dibutuhkannya waktu yang lama untuk memindahkan bahan-bahan atau barang-barang di tempat-tempat pengiriman, penerimaan dan pemeriksaan atau pengecekan, yang disebabkan karena tempat tersebut tidak diatur dengan baik.
c.    Adanya pemborosan dalam meng-handle bahan-bahan di bagian pemeliharaan (maintenance department), yang disebabkan kurangnya pengawasan langsung (direct supervision) dalam menyusun barang-barang dan memindahkan bahan-bahan atau barang-barang.

v Biaya material handling dapat dikurangi atau diperkecil dengan memperhatiakan prinsip-prinsip material handling:
a.    Material handling harus dikurangi atau dihindari apabila mungkin dari semua pekerjaan dalam pabrik.
b.    Pekerjaan material handling yang tak dapat dihindarkan atau dikurangi harus dimekanisasikan, seperti dengan menggunakan ban berjalan (conveyor) atau forktruck/forklift.
c.    Alat-alat handling harus dipilih berdasarkan pertimbangan ekonomi atau efisiensi dan dapat berguna bagi kepentingan keseluruhan pabrik.
d.   Alat-alat handling yang ada harus digunakan secara lebih efisien dalam pabrik.
e.    Sebelum memutuskan penggunaan suatu jenis peralatan handling yang mekanis, perlu dibuatkan suatu analisis yang lengkap untuk dapat ditentukan jenis peralatan apa yang paling sesuai dan paling ekonomis untuk pekerjaan tersebut.
f.     Rencana untuk memperkenalkan peralatan handling atau membuat perubahan atas peralatan-peralatan yang ada haruslah dibicarakan, dan diterima oleh semua pihak yang berkepentingan beserta  usul-usul sebelum penerapan dilakukan.

v Aspek-aspek produksi yang menyangkut material handling:
1.    Product design, dimana produk yang direncanakan haruslah dibuat sedemikian rupa sehingga mudah diangkut atau dipindahkan.
2.    Plant lay out, dimana bagian-bagian dan peralatan haruslah diatur agar supaya pemindahan bahan-bahan/barang-barang dalam proses dapat berjalan dengan lancar, sehingga dapat mengurangi waktu pengerjaan dan waktu material handling.
3.    Production planning, di mana urutan-urutan proses produksi haruslah diatur sedmikian rupa sehingga pemindahan bahan-bahannya mudah dilaksanakan.
4.    Pengepakan (packaging) haruslah memperhatikan agar handling-nya mudah, dimana bungkusan atau pakannya mudah diangkut atau dipindahkan.

2.4              Pemilihan peralatan penanganan bahan
Peralatan material handling dalam suatu perusahaan pabrik dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu:
1.    Fixed Path Equipment, yaitu peralatan material handling yang sudah tetap (fixed) digunakan suatu proses produksi.
Sifat-sifat dari fixed path equipment ialah:
a.    Biasanya tergantung atau ditentukan oleh proses produksi.
b.    Sifatnya sudah tetap (fixed) tidak fleksibel, karena hanya digunakan untuk mengangkut barang-barang atau bahan-bahan secara terus-menerus/kontinu dan tidak dapat digunakan untuk maksud yang lain.
c.    Mesin-mesin atau peralatan ini biasanya menggunkan kekuatan tenaga listrik.
Contoh fixed path equipment adalah:
1)   Ban berjalan (conveyor
2)   Derek (cranes)
3)   Lift (elevator)
4)   Keteta api

2.    Varied Path Equipment, yaitu peralatan material handling yang sifatnya fleksibel dapat dipergunakan untuk bermacam-macam tujuan dan tidak khusus untuk mengangkut atau memindahkan bahan-bahan/barang-barang tertentu.
Sifat-sifat dari varied path equipment ialah:
a.    Biasanya tidak tergantung dari proses produksi
b.    Dapat dipergunakan bermacam-macam operasi
c.    Mesin-mesin atau peralatan semacam ini biasanya digunakan dengan kekuatan tenaga manusia atau tenaga mesin (motor).
Contoh dari varied path equipment adalah:
1)   Bermacam-macam truk
2)   Kereta dorong

Untuk menentukan tipe peralatan penanganan bahan yang akan digunakan perlu memperhatikan beberapa faktor penting. Faktor-faktor pertimbangan  tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Jalur pengangkutan yang akan diikuti oleh bahan atau orang yang akan meninggalkan lokasi tertentu. Jika jalur yang dilewati bersifat tetap perusahaan akan mempertimbangkan untuk menggunakan conveyor, namun jika bersifat variabel maka perusahaan akan mempertimbangkan untuk menggunakan truk dan derek.
2.    Sifat objek yang diangkut. Bila mengangkut orang-orang, alternatif peralatan yang dapat dipilih seperti elevator, eskalator, dan bus. Bila mengangkut bahan-bahan, perlu mempertimbangkan bentuk, ukuran, berat dan daya tahan. Contohnya, bahan cair sebaiknya diangkut melalui pipa-pipa.
3.    Karakteritik-karakteristik bangunan. Kapasitas beban lantai, ketinggian atap, kekuatan tiang penyangga, penempatan lorong-lorong dan ukuran pintu akan menjadi pertimbangan dalam memilih peralatan yang akan digunakan.
4.    Keadaan ruangan yang tersedia. Bila luas lantai terbatas, truk-truk kecil, conveyor dan derek akan lebih sesuai.
5.    Kapasitas peralatan penanganan yang diperlukan. Faktor ini akan menentukan jumlah peralatan tipe tertentu dibutuhkan, dimana ini juga tergantung pada jumlah bahan yang diangkut per periode.

Sistem Penanganan Bahan Otomatik
1.    Sistem “guide rail” merupakan system mekanikal, dan mempergunakan rel-rel yang menempel padas isi gang-gang untuk mengendalikan truk tetap pada jalur melalui pemasangan roda-roda yang dicocokkan dengan rel-rel tersebut.
2.    Sistem “guide wire” memungkinkan penanganan bahan menjadi lebih otomatik sepenuhnya. Sistem ini menggunakan peralatan elektronik, yang terdiri atas jaringan kabel-kabel yang ditanam dalam gang-gang fasilitas. Sistem “guide wire” semakin banyak digunakan karena manfaat ekonomisnya yang tinggi, system ini juga menghemat ruangan, memerlukan tenaga kerja lebih sedikit, mengurangi kesalahan-kesalahan dan bahan atau komponen hilang, mengurangi bahaya dan lebih aman.